Postingan

Cerita terbaru

Suara di Kepala Jam 2 Pagi

Gambar
Untuk pembaca remaja Hujan turun pelan di luar jendela. Lampu kamar hanya menyala dari layar laptop yang belum dimatikan sejak tadi malam. Jam digital di meja belajar menunjukkan pukul 02.07. Arga belum tidur. Ia duduk bersandar di kursi, memandangi daftar jurusan kuliah yang terbuka di layar. Teknik Informatika. Desain Komunikasi Visual. Psikologi. Semua terasa asing sekaligus menakutkan. Di kepalanya, suara-suara mulai muncul lagi. "Kalau salah pilih gimana?" "Kalau ternyata kamu biasa aja?" "Semua orang sudah punya tujuan. Kamu kapan?" Arga mengusap wajahnya pelan. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit, tapi karena terlalu banyak pikiran yang datang bersamaan. Di grup kelas, teman-temannya terlihat sibuk membahas universitas impian. Ada yang sudah ikut bimbingan belajar mahal. Ada yang yakin ingin jadi dokter. Ada yang bahkan sudah diterima jalur prestasi. Sedangkan Arga? Ia bahkan belum yakin sebenarnya ingin jadi siapa. Ponselnya bergetar. Sebua...

Topeng yang Kupakai di Sekolah

Gambar
Untuk pembaca remaja Di sekolah, semua orang mengenal Dara sebagai siswi yang selalu ceria. Senyumnya tidak pernah hilang, jawabannya selalu sopan, dan nilainya hampir selalu bagus. Guru menyukainya. Teman-temannya sering meminta bantuan darinya. Bahkan di media sosial sekolah, Dara dikenal sebagai “anak paling ramah”. Tapi tidak ada yang tahu kalau setiap hari Dara merasa lelah menjadi dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya… ia bahkan tidak tahu lagi siapa dirinya. Di rumah, Dara menjadi anak yang tenang agar tidak menambah beban orang tuanya yang sibuk bekerja. Di kelas, ia menjadi murid sempurna supaya guru bangga padanya. Di depan teman-temannya, ia menjadi pendengar yang baik meski sebenarnya ingin didengarkan juga. Di media sosial, ia memakai versi dirinya yang selalu terlihat bahagia. Semua itu seperti topeng yang berbeda. Awalnya Dara menganggap itu normal. Semua orang pasti menyesuaikan diri di tempat berbeda, kan? Namun lama-lama, ia mulai merasa kosong. Suatu hari saat jam ...

Versi Diriku yang Tidak Diposting

Gambar
Untuk pembaca remaja Di layar ponselnya, hidup Kayla terlihat sempurna. Foto senyumnya selalu cerah. Story tentang kafe estetik selalu ramai balasan. Teman-temannya sering berkomentar, “Kamu beruntung banget, hidupmu seru terus.” Padahal, malam itu Kayla duduk sendiri di lantai kamar sambil memandangi pantulan wajahnya di cermin kecil. Ia menghapus satu foto sebelum sempat diposting. Foto itu tidak buruk. Bahkan cukup bagus. Namun, menurut Kayla, senyumnya terlihat “kurang bahagia”. “Aneh,” gumamnya pelan. “Aku sendiri aja nggak tahu wajah bahagiaku yang asli.” Sejak masuk kelas sebelas, Kayla mulai sering membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial. Ada yang lebih cantik. Lebih pintar. Lebih aktif organisasi. Lebih percaya diri saat bicara di depan kelas. Ia jadi terbiasa memilih bagian terbaik dari dirinya untuk ditampilkan. Yang sedih disimpan. Yang bingung disembunyikan. Yang takut dianggap lemah, dipendam sendiri. Suatu sore, saat jam istirahat, sahabatnya, Naira, d...

Nama di Bangku Belakang

Gambar
Untuk pembaca remaja Di kelas XI-B SMA Harapan Nusantara, ada 1 siswa yang jarang diperhatikan. Namanya Damar. Ia selalu duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Tidak pernah ribut, tidak pernah ikut bercanda berlebihan, dan hampir tidak pernah mengangkat tangan saat guru bertanya. Banyak teman sekelas bahkan merasa Damar “tidak punya warna”. “Kalau absen, kadang aku baru sadar dia masuk,” bisik Reno suatu hari sambil tertawa kecil. Beberapa teman ikut tertawa. Damar mendengarnya. Namun ia hanya menunduk sambil membalik halaman buku tulisnya. Bukan karena marah. Ia sudah terbiasa. --- Di sekolah itu, siswa yang terkenal biasanya punya sesuatu yang mencolok: jago basket, aktif organisasi, pintar bicara, atau populer di media sosial sekolah. Damar tidak punya semua itu. Ia hanya punya kebiasaan kecil yang hampir tidak pernah disadari siapa pun. Datang lebih pagi. Merapikan kursi yang berantakan. Menghapus papan tulis sebelum guru masuk. Memungut sampah kecil tanpa diminta. Kadan...

Misteri Hutan Gelap

Gambar
Untuk pembaca remaja Di sebuah kota kecil bernama Bukit Harapan, ada sebuah hutan tua yang dikenal warga sebagai Hutan Gelap. Pohon-pohonnya tinggi menjulang, cahaya matahari sulit menembus dedaunan lebat, dan kabut tipis selalu menyelimuti jalan setapak di dalamnya. Banyak cerita beredar tentang suara aneh, bayangan misterius, dan orang-orang yang tersesat di sana. Empat sahabat remaja—Raka, Dimas, Alin, dan Sinta—penasaran dengan cerita itu. Mereka semua berusia 17 tahun dan terkenal suka mencoba hal-hal baru. “Aku yakin semua cerita itu cuma dibuat-buat,” kata Dimas sambil menyandarkan sepeda di depan warung. “Kalau begitu, kenapa banyak warga melarang orang masuk ke sana malam-malam?” tanya Sinta. Raka tersenyum penuh semangat. “Justru itu yang bikin menarik. Bagaimana kalau kita menyelidikinya akhir pekan ini?” Alin terlihat ragu. “Asal jangan nekat. Kita tetap harus hati-hati.” Akhirnya mereka sepakat pergi ke Hutan Gelap pada Sabtu sore. Mereka membawa senter, peta, bekal, da...

Petualangan di Planet Biru

Gambar
Untuk pembaca remaja Di tahun 2145, teknologi luar angkasa berkembang sangat pesat. Manusia mulai menjelajahi berbagai planet di galaksi untuk mencari sumber energi baru dan kehidupan lain. Di antara para penjelajah muda itu, ada seorang remaja bernama Arka, siswa akademi antariksa berusia 17 tahun yang penuh rasa ingin tahu. Suatu hari, Arka mendapat kesempatan mengikuti misi rahasia menuju sebuah planet misterius bernama Azurea, yang dijuluki “Planet Biru” karena seluruh permukaannya bersinar biru terang jika dilihat dari luar angkasa. Bersama 3 rekannya — Nala yang ahli teknologi, Vino si pemberani, dan Mira yang cerdas dalam ilmu alam — mereka menaiki kapal luar angkasa Orion Star menuju Azurea. Perjalanan berlangsung selama beberapa hari. Saat akhirnya tiba, mereka terpesona melihat lautan biru berkilauan, hutan bercahaya, dan langit ungu yang dipenuhi dua bulan besar. “Planet ini indah sekali…” gumam Mira. Namun kapten misi memberi peringatan. “Hati-hati. Planet ini belum pern...

Robot Sahabatku

Gambar
Untuk pembaca remaja Di tahun 2045, kota Arunika dikenal sebagai kota paling maju di Indonesia. Hampir semua pekerjaan dibantu robot cerdas. Ada robot pengantar makanan, robot guru virtual, bahkan robot penjaga taman kota. Namun bagi Raka, siswa SMA berusia 17 tahun, robot hanyalah mesin tanpa perasaan. “Aku lebih suka manusia asli daripada robot,” gumamnya suatu sore sambil berjalan pulang sekolah. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, Raka menjadi pribadi pendiam. Ibunya bekerja hingga malam sebagai teknisi laboratorium robotik, membuat rumah mereka sering terasa sepi. Suatu hari, ibunya membawa pulang sebuah robot humanoid terbaru. “Namanya AR-7. Tapi kamu boleh memanggilnya Arlo,” kata ibunya sambil tersenyum lelah. Robot itu memiliki mata biru lembut dan suara yang tenang. “Halo, Raka. Senang bertemu denganmu,” ucap Arlo. Raka hanya mendengus. “Robot tidak perlu basa-basi.” Arlo diam beberapa detik sebelum menjawab, “Aku akan berusaha menjadi teman yang baik.” “Teman? Kamu cu...