Persahabatan Tanpa Batas
Untuk pembaca remaja --- Lampu neon minimarket di sudut Jalan Melati berkedip-kedip, seolah ikut merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Di emperannya, duduk tiga remaja dengan nasib yang saling bertabrakan: Aris , si juara kelas yang punggungnya hampir patah karena ekspektasi orang tua; Luna , seniman jalanan dengan jaket denim penuh noda cat yang sedang kabur dari rumah; dan Bimo , atlet basket yang baru saja mendengar vonis dokter bahwa ligamennya tidak akan pernah sama lagi. Mereka berusia 16 tahun—usia di mana dunia terasa terlalu sempit untuk impian mereka, namun terlalu luas untuk dihadapi sendirian. 3 Luka, 1 Frekuensi "Jadi, kita benar-benar akan melakukannya?" tanya Bimo, suaranya serak. Ia memutar-mutar bola basket kusam di jarinya, sebuah kebiasaan yang sekarang terasa menyakitkan. "Persetan dengan rencana," sahut Luna sambil menyemprotkan cat kaleng ke sebuah kardus bekas. "Ayahku ingin aku jadi akuntan. Aris ingin jadi penu...