Notifikasi Terakhir
Untuk pembaca remaja
Ponsel itu bergetar lagi.
"Kamu yakin mau memilih ini?"
Aku menatap layar cukup lama. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada nomor. Hanya notifikasi singkat yang muncul setiap kali aku… ragu.
Namaku Raka, 16 tahun. Dan sejak seminggu terakhir, hidupku berubah gara-gara satu hal kecil: notifikasi misterius.
Awalnya aku pikir itu cuma bug atau aplikasi aneh. Tapi semuanya terasa terlalu… tepat.
Seperti hari itu.
Aku hampir menyontek saat ulangan matematika. Soalnya sulit, dan aku tahu aku bisa gagal. Tapi tepat saat aku melirik jawaban teman, ponselku bergetar di dalam tas.
"Nilai tinggi, tapi bukan milikmu."
Tanganku langsung berhenti.
Sejak saat itu, notifikasi itu muncul setiap kali aku di persimpangan pilihan.
Hari ini adalah yang paling berat.
Aku berdiri di depan ruang OSIS, memegang formulir pendaftaran. Menjadi ketua OSIS adalah impianku sejak lama. Tapi ada satu masalah: aku tahu aku tidak sebaik Ardi.
Ardi lebih pintar. Lebih disiplin. Dan jujur saja… lebih pantas.
Tapi teman-temanku bilang aku punya peluang besar kalau “main sedikit kotor”—menjatuhkan Ardi lewat gosip yang sudah mulai beredar.
Aku cuma perlu diam saja. Tidak perlu menyebarkan. Cukup tidak menghentikan.
Tanganku gemetar.
Kalau aku diam… aku bisa menang.
Ponselku bergetar.
"Kamu ingin menang… atau pantas menang?"
Aku menelan ludah.
“Ini cuma sekali,” bisikku pada diri sendiri.
Aku hampir memasukkan formulir itu.
Getar lagi.
"Kalau kamu jadi dia, kamu ingin diperlakukan seperti ini?"
Aku terdiam.
Pertanyaan itu menancap lebih dalam daripada notifikasi sebelumnya.
Aku membayangkan diriku jadi Ardi—berusaha keras, tapi dijatuhkan tanpa tahu kenapa.
Rasanya… sakit.
Aku menghela napas panjang. Lalu perlahan, aku merobek formulir itu.
Hari berlalu.
Ardi akhirnya terpilih sebagai ketua OSIS.
Dan aku?
Aku duduk di bangku belakang aula, tepuk tangan bersama yang lain. Ada sedikit rasa sesal. Sedikit.
Tapi anehnya… aku merasa ringan.
Ponselku bergetar lagi.
Aku langsung membukanya.
Namun kali ini berbeda.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada kalimat sindiran.
Hanya satu pesan:
"Kamu sudah tahu jawabannya sekarang."
Aku mengernyit.
“Jawaban apa?”
Tidak ada balasan.
Sejak hari itu… notifikasi itu tidak pernah muncul lagi.
Beberapa minggu kemudian, Ardi menghampiriku.
“Rak, gue butuh wakil. Mau bantu gue?”
Aku terkejut.
“Kenapa gue?”
Ardi tersenyum kecil.
“Soalnya gue lihat lo… beda. Lo jujur.”
Aku terdiam.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar—
Notifikasi itu mungkin bukan sesuatu dari luar.
Mungkin itu… suara yang selama ini aku abaikan.
Suara hati.
"Kamu yakin mau memilih ini?"
Aku menatap layar cukup lama. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada nomor. Hanya notifikasi singkat yang muncul setiap kali aku… ragu.
Namaku Raka, 16 tahun. Dan sejak seminggu terakhir, hidupku berubah gara-gara satu hal kecil: notifikasi misterius.
Awalnya aku pikir itu cuma bug atau aplikasi aneh. Tapi semuanya terasa terlalu… tepat.
Seperti hari itu.
Aku hampir menyontek saat ulangan matematika. Soalnya sulit, dan aku tahu aku bisa gagal. Tapi tepat saat aku melirik jawaban teman, ponselku bergetar di dalam tas.
"Nilai tinggi, tapi bukan milikmu."
Tanganku langsung berhenti.
Sejak saat itu, notifikasi itu muncul setiap kali aku di persimpangan pilihan.
Hari ini adalah yang paling berat.
Aku berdiri di depan ruang OSIS, memegang formulir pendaftaran. Menjadi ketua OSIS adalah impianku sejak lama. Tapi ada satu masalah: aku tahu aku tidak sebaik Ardi.
Ardi lebih pintar. Lebih disiplin. Dan jujur saja… lebih pantas.
Tapi teman-temanku bilang aku punya peluang besar kalau “main sedikit kotor”—menjatuhkan Ardi lewat gosip yang sudah mulai beredar.
Aku cuma perlu diam saja. Tidak perlu menyebarkan. Cukup tidak menghentikan.
Tanganku gemetar.
Kalau aku diam… aku bisa menang.
Ponselku bergetar.
"Kamu ingin menang… atau pantas menang?"
Aku menelan ludah.
“Ini cuma sekali,” bisikku pada diri sendiri.
Aku hampir memasukkan formulir itu.
Getar lagi.
"Kalau kamu jadi dia, kamu ingin diperlakukan seperti ini?"
Aku terdiam.
Pertanyaan itu menancap lebih dalam daripada notifikasi sebelumnya.
Aku membayangkan diriku jadi Ardi—berusaha keras, tapi dijatuhkan tanpa tahu kenapa.
Rasanya… sakit.
Aku menghela napas panjang. Lalu perlahan, aku merobek formulir itu.
Hari berlalu.
Ardi akhirnya terpilih sebagai ketua OSIS.
Dan aku?
Aku duduk di bangku belakang aula, tepuk tangan bersama yang lain. Ada sedikit rasa sesal. Sedikit.
Tapi anehnya… aku merasa ringan.
Ponselku bergetar lagi.
Aku langsung membukanya.
Namun kali ini berbeda.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada kalimat sindiran.
Hanya satu pesan:
"Kamu sudah tahu jawabannya sekarang."
Aku mengernyit.
“Jawaban apa?”
Tidak ada balasan.
Sejak hari itu… notifikasi itu tidak pernah muncul lagi.
Beberapa minggu kemudian, Ardi menghampiriku.
“Rak, gue butuh wakil. Mau bantu gue?”
Aku terkejut.
“Kenapa gue?”
Ardi tersenyum kecil.
“Soalnya gue lihat lo… beda. Lo jujur.”
Aku terdiam.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar—
Notifikasi itu mungkin bukan sesuatu dari luar.
Mungkin itu… suara yang selama ini aku abaikan.
Suara hati.
Pesan Moral:
Kadang kita mencari jawaban di luar diri kita, padahal yang kita butuhkan sudah ada di dalam: hati nurani. Keputusan yang benar mungkin tidak selalu mudah atau menguntungkan, tapi akan selalu membuat kita merasa utuh sebagai diri sendiri.Dengan melapor, kamu membantu menjaga komunitas tetap aman 💙